Perjalanan Terjal Menuju Puncak Mahameru, Gunung Semeru
Perjalanan Terjal Menuju Puncak Mahameru, Gunung Semeru

Perjalanan Terjal Menuju Puncak Mahameru, Gunung Semeru

Perjalanan Saya Ke Gunung Semeru Perjalanan menuju ke Gunung Semeru ini berawal dari ajakan iseng seorang teman kami yakni Udin. Ya, Udin merupakan salah satu sahabat kami yang memiliki hobi bermain di ketinggian alam.


Tokohsebelah.com- Siapa yang tidak kenal akan keindahan dan keeksotikan dari Gunung Semeru yang ada di Provinsi Jawa Timur. Ya, gunung yang menjadi salah satu dari puncak tertinggi di Indonesia ini menjadi salah satu tempat pendakian yang paling banyak dituju oleh para pendaki. Banyak pendaki baik pendaki domestic maupun pendaki asing kerap mengunjungi gunung yang dianggap sakral dan tidak memiliki berbagai versi cerita mistik di dalamnya.

Memang, tak diragukan lagi perihal keindahan alam yang dibalut dengan berbagai cerita mistik di Gunung Semeru ini pun mengingatkan saya untuk kembali menceritakan perjalanan terjal menuju Mahameru (Puncak Gunung Semeru) yang dikenal memiliki jalur ekstrim dan sering kali memakan korban jiwa jikalau ada pendaki yang kurang mengaawas diri ketika tengah melakukan perjalanan Summit Attack.

Perjalanan Saya Ke Gunung Semeru


Perjalanan menuju ke Gunung Semeru ini berawal dari ajakan iseng seorang teman kami yakni Udin. Ya, Udin merupakan salah satu sahabat kami yang memiliki hobi bermain di ketinggian alam. Tak diragukan lagi mengenai pengalamannya. Ia pernah menjadi salah satu mahasiswa pecinta alam di suatu universitas swasta ternama di Kota Surabaya dan kerap diajak untuk menjadi mentor di berbagai acara yang bertemakan kegiatan pecinta alam.

Nah, kali ini kami berkesempatan untuk ikut dengannya guna berpetualang di alam bebas tepatnya di Gunung Semeru. Sebulan sebelum jadwal keberangkatan ke Gunung Semeru, saya berinisiatif untuk mempersiapkan berbagai perlengkapan pendakian seperti Sleeping Bag (kantong tidur), Tas Carrier, Peralatan Masak Lapangan, Sepatu Gunung, Jaket Gunung, dan peralatan lainnya. Saya membeli beberapa perlengkapan tersebut karena terdapat peraturan yang tidak boleh Anda langgar ketika akan mendaki Gunung Semeru yakni wajib menggunakan peralatan pendakian standart.

Selain harus memiliki peralatan pendakian yang sesuai dengan standart keamanan, Anda juga diwajibkan menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh karena pendakian Gunung Semeru ini membutuhkan stamina yang terbilang luar biasa. Sebab, Anda akan berada di alam bebas selama 4 hari 3 malam dan berjalan menempuh berbagai medan terjal sekitar 18 kilometer. Ya, Anda akan melewati tanjakan terjal, turunan tajam, hingga medan jalan yang berpasir dan berbatu. Sehingga Anda diwajibkan untuk berolahraga setiap hari sebelum melakukan perjalanan pendakian ini.
Dan awal dari perjalanan menuju puncak atap jawa ini pun tiba. Saya bersama dengan teman teman saya termasuk Udin ini pun memilih menggunakan sepeda motor untuk menuju ke Desa Ranupani tepatnya di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dibutuhkan waktu tempuh sekitar 4 jam dengan medan jalan yang berliku dan melewati jurang. Disarankan Anda terlebih dahulu mengecek kendaraan bermotor agar tidak terjadi masalah seperti mogok dan sebagainya.

Setelah memasuki kawasan parkir, kami memutuskan untuk langsung bergegas ke pendopo guna merebahkan diri dari rasa capek dan kantuk selama perjalanan. Suhu dingin langsung menyambut Anda karena Desa Ranupani ini berada di daerah ketinggian yakni di 2.100 Mdpl. Selain itu, di sekitar pendopo juga terdapat sebuah danau yang cukup indah yakni danau Ranu Regulo.

Pagi, ketika waktu tengah menunjukkan pukul 08.00 WIB, Udin bersama saya pun bergegas ke pintu loket untuk proses registrasi. Masing masing pendaki dimintai foto copy KTP, surat keterangan sehat, serta 1 materai 6000 per rombongan. Memang, persyaratan tersebut wajib untuk dipenuhi ketika hendak melakukan proses registrasi pendaki yang ingin memasuki kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Selain itu, para pendaki juga diwajibkan mengikuti briefing yang dilakukan oleh panitia yang berasal dari petugas perhutani dan tim saver Semeru. Tujuannya adalah mensosialisasikan apa saja yang dilarang ketika mendaki Gunung Semeru.

Setelah semua proses registrasi selesai, kami bersama Udin pun mulai membagi tugas terkait perbekalan. Kebetulan, saya yang membawa tas carrier berukuran 80 Liter kebagian membawa tenda regu yang berukuran lumayan besar.
Perjalanan awal ini kami mulai disambut dengan indahnya hamparan sawah yang digarap oleh petani sekitar. Lalu, kami berjalan agak ke kiri dan jalan pun mulai menanjak tajam. Menandakan kami telah mulai memasuki kawasan Gunung Semeru ini.

Setelah berjalan cukup lama, kami telah melewati pos 2 yakni di Lendengan Dowo yang berada di ketinggian 2300 Mdpl. Kami memutuskan untuk berhenti sejenak untuk melepas rasa lelah. Maklum, saya baru kali ini merasakan sensasi mendaki gunung.
Setelah itu, kami mulai meneruskan perjalanan agar tidak terlalu larut untuk sampai ke pos Ranu Kumbolo. Sekitar 1,5 jam berjalan, kami pun telah sampai ke pos 3 yakni Watu Rejeng. Dari pos Watu Rejeng ke pos 4 yaitu Ranu Kumbolo ini terbilang masih cukup jauh dan akhirnya kami sepakat untuk terus berjalan beriringan hingga ke pos 4 yaitu Ranu Kumbolo.

Setapak demi setapak jalan ini kami lalui dengan perasaan senang karena terhampar luas beberapa pemandangan dan udara sejuk yang kami rasakan di perjalanan ini. Hampir 2 jam kami berjalan, saya melihat dari kejauhan terhampar sebuah danau yang sangat luas dan indah. Pemandangan yang baru pertama kali saya lihat dan danau ini sangat viral karena menjadi salah satu tempat pengambilan gambar di film 5 cm. Kami pun mulai mencari tempat untuk mendirikan tenda dan mulai memasak untuk makan malam kami.

Malam semakin larut dan kopi di gelas pun telah habis, saya beserta kawan semua pun memutuskan untuk tidur guna mengisi kembali tenaga yang telah terkuras seharian. Waktu menunjukkan pukul 04.30 WIB dan saya terbangun karena suara gaduh teman yang ingin mengabadikan momen golden sunrise di Ranu Kumbolo ini. Ya, menurut saya memang Gunung Semeru ini menyimpan sejuta keindahan alam yang patut untuk kita nikmati. Setelah puas berfoto, kawan kami pun bergegas memasak sarapan dan kemudian melanjutkan perjalanan ke pos terakhir yaitu Kalimati.

Dari Ranu Kumbolo kami melanjutkan perjalanan dan melewati sebuah tanjakan yang terkenal dari Gunung Semeru yakni tanjakan cinta. Barang siapa yang melewati tanjakan ini tanpa berhenti dan menoleh ke belakang maka hubungan asmaranya pun akan kekal dan bahagia. Nah, setelah melewati tanjakan cinta, saya pun turun dan melewati banyak tanaman berwarna ungu yakni oro oro ombo. Disini, Anda dapat berfoto dengan pemandangan seperti melewati lautan tanaman berwarna ungu.
Selepas itu, Anda disambut dengan adanya plakat yang menunjukkan bahwa Anda telah berada di pos 5 yaitu Cemoro Kandang. Anda akan melewati beberapa puncak bukit yang cukup melelahkan dan sangat menguras tenaga. Setelah 5 jam melewati pos Cemoro Kandang, kami pun telah sampai ke pos 6 yakni Jambangan. Disini, Anda dapat melihat dengan jelas puncak Gunung Semeru yang sangat indah. Saya pun memilih beristirahat sejenak sekaligus menyempatkan waktu untuk berfoto bersama kawan kawan.

Setelah puas, kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos 7 yaitu Kalimati. Disini, Anda akan merasakan hawa dingin yang cukup menyentuh tulang sehingga Anda sangat disarankan menggunakan sarung tangan atau kaos tebal ketika berjalan.

45 menit kami berjalan, maka sampailah di pos 7 yaitu Kalimati. Kami mendirikan tenda di dekat kaki puncak Gunung Semeru ini agar memudahkan kami untuk langsung summit attack nantinya. Saya bersama rekan rekan mulai berbagi tugas. Ada yang bertugas mendirikan tenda, menyiapkan peralatan masak, mengambil air di Sumber Mani, dan juga memasak makanan.
Setelah semua tugas telah selesai, kami pun berkumpul dan mulai mempersiapkan diri untuk ke puncak nantinya. Kami disarankan untuk segera tidur agar pada pukul 23.30 WIB kami dapat bergegas menuju ke puncak Mahameru.

Alarm pun bordering dan waktu telah menunjukkan pukur 23.20 WIB dan saya membangunkan beberapa rekan satu tenda untuk segera persiapan untuk menuju puncak. Saya membawa bekal minum secukupnya, roti, selai, madu, dan beberapa obat P3K. Semua telah saya persiapkan termasuk menggunakan jaket tebal dan juga celana tebal serta juga membawa senter, kupluk, hingga sarung tangan.
Perjalanan menuju puncak pun dimulai pukul 23.45 WIB. Saya merasakan hawa dingin yang mulai menusuk dan hela nafas pun mulai mengeluarkan asap dingin. Disini, kekompakan kami diuji.
Sebab, kami telah berkomitmen jika ada yang berhenti maka berhenti semuanya tanpa terkecuali. Selang 2 jam berjalan, kami pun telah sampai di kawasan Arcopodo. Konon katanya, terdapat arca gaib yang hanya bias dilihat oleh orang yang memiliki mata kebatinan. Disini juga terdapat makam dari salah satu korban yang meninggal ketika tengah melakukan perjalanan ke puncak Gunung Semeru yakni Soe Hok Gie.

Kami pun terus berjalan dan mulai melalui kawasan batas vegetasi. Jalur pun berubah dari yang awalnya tanah berbatu mulai menjadi pasir berbatu. Disini, Anda wajib waspada karena Anda salah tumpuan maka batu akan lepas dan kemudian beresiko untuk mengenai orang yang berada di bawah. 

Suhu dingin pun semakin menusuk karena berada di level minus 0 derajat celcius. Setelah 4 jam lebih berjuang kami pun akhirnya sampai ke puncak Mahameru dengan selamat. Ya, rombongan saya yang berjumlah 6 orang termasuk saya dan Udin ini pun mengucapkan puji syukur tanpa henti karena diberi kesempatan oleh tuhan guna melihat keindahan alam yang diciptakanNya.

Kami pun merasa lega karena rasa capek di perjalanan pun terbayar tuntas dengan indahnya alam dari puncak Mahameru ini. Setelah puas berfoto dengan kawan, saya pun bergegas untuk turun karena cuaca pada waktu itu tidak memungkinkan untuk terlalu berlama lama di puncak. Setelah 2 jam berjalan turun, kami pun telah sampai di pos Kalimati dan merebahkan diri sejenak sebelum berkemas dan melanjutkan perjalanan ke Ranu Kumbolo.
Setelah sampai ke Ranu Kumbolo, kami sepakat untuk bermalam disini terlebih dahulu karena waktu yang tidak memungkinkan kami untuk melanjutkan perjalanan hingga ke Ranupani. Kami pun kembali mendirikan tenda di sekitar danau Ranu Kombolo ini. Setelah kopi dalam gelas telah habis, saya bersama rekan pun kembali tidur agar esok dapat kembali fit guna melanjutkan perjalanan hingga selamat sampai rumah.



Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 07.00 WIB dan kami pun mulai menata rapi seluruh peralatan dan kemudian bergegas menuju pos Ranupani. Nah, di Ranupani ini Anda kemudian di data kembali perihal kelengkapan anggota regu kalian. Setelah semua lengkap maka Anda dapat melanjutkan perjalanan kembali dan kemudian menuju parki motor dan melanjutkan perjalanan pulang kerumah.

Nah itulah sepenggal kisah dari perjalanan terjal menuju puncak Mahameru, Gunung Semeru.
Advertisement

Baca juga:

Your Reactions:

Admin
Seorang blogger yang selalu memberikan motivasi baru dan menshering hal-hal yang positif.